Kamis, 19 Januari 2017

Analisis Sosiologi Pengarang Qasidah Burdah






Sosiologi Pengarang
Qasidah Burdah


 







PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Qashidah burdah adalah salah satu karya paling populer dalam khazanah sastra Islam. Qasidah  ini terdiri dari 160 bait dan berisi tentang sajak sajak pujian kepada Nabi Muhammad, pesan moral, nilai-nilai spiritual, dan semangat perjuangan. Hingga kini burdah masih sering dibacakan di berbagai Pesantren salaf dan berbagai majelis-majelis dzikir dan shalwat. Qasidah ini juga telah diterjemahkan ke berbagai bahasa, seperti Persia, Turki, Urdu, Punjabi, Swahili, Pastum, Indonesia/Melayu, Inggris, Prancis, Jerman, Italia.
Burdah  memiliki pengaruh yang begitu besar terhadap perkembangan kesusastraan Arab dan non-Arab , di Hadhramaut dan banyak daerah Yaman lainnya diadakan pembacaan qashidah burdah setiap subuh hari Jum’at atau ashar hari Selasa. Sedangkan para ulama Al-Azhar di kota Mesir banyak yang mengkhususkan hari Kamis untuk pembacaan Burdah dan mengadakan kajian. Sampai kini masih diadakan pembacaan burdah di masjid-masjid besar di kota Mesir, seperti Masjid Imam Al-Husain, Masjid As-Sayyidah Zainab.
 Di negeri Syam (Syiria) majelis-majelis qashidah burdah juga diadakan di rumah-rumah dan di masjid-masjid, dan dihadiri para ulama besar. Di Maroko pun biasa diadakan majelis-majelis besar untuk pembacaan qashidah burdah dengan lagu-lagu yang merdu dan indah yang setiap pasal dibawakan dengan lagu khusus.
Qasidah ini juga diterima secara utuh oleh mayoritas masyarakat Indonesia, khususnya di kalangan Pesantren salaf yang hingga saat ini masih menjadikan qashidah burdah sebagai salah satu kitab yang wajib dikaji oleh para santri. Bahkan, qashidah burdah telah menjadi kurikulum Pesantren sebagai bagian dari proses belajar-mengajar dalam kehidupan pesantren.
Dr. De Sacy, seorang ahli Bahasa Arab di Universitas Sorbone, mengatakan bahwa qashidah burdah merupakan puisi terbaik sepanjang masa karena keindahan syair-syairnya. Betapa hebatnya Imam Bushiri yang telah menggugah banyak umat Islam melalui qasidahnya yang sangat indah, maka dari itu penulis merasa terdorong untuk meneliti lebih mendalam tentang siapa itu imam Bushiri sang pencipta qasidah yang begitu indah ini.
PEMBAHASAN
A. Penggalan Qasidah Burdah
قصيدة البردة
للناظم الشيخ محمد البوصيري

في الغزل وشكوى الغرام
Bercumbu dan pengaduan cinta
أَمِنْ تَذَكُّرِ جِيْرَانٍ بِذِيْ سَــــلَــمٍ         ۞     مَزَجْتَ دَمْعًا جَرَيْ مِنْ مُقْلَةٍ بِـــدَمِ
Apakah karena mengingat para kekasih di Dzi Salam sana
Engkau deraikan air mata dengan darah duka
أَمْ هَبَّتِ الرِّيْحُ مِنْ تِلْقَاءِ كَاظِمَـــةٍ      ۞    وَأَوْمَضَ الْبَرْقُ فِيْ الْضَمَآءِ مِنْ إِضَـمِ
Ataukah karena hembusan angin terarah lurus berjumpa di Kadhimah.
Dan kilatan cahaya gulita malam dari kedalaman jurang idham
فَمَا لِعَيْنَيْكَ إِنْ قُلْتَ اكْفُفَا هَمَتَــا     ۞     وَمَا لِقَلْبِكَ إِنْ قُلْتَ اسْتَفِقْ يَهِـــــمِ
Mengapa kedua air matamu tetap meneteskan airmata? Padahal engkau telah berusaha membendungnya
Apa yang terjadi dengan hatimu? Padahal engkau telah berusaha menghiburnya
أَيَحَسَبُ الصَّبُّ أَنَّ الْحُبَّ مُنْكَتـــِمٌ   ۞     مَا بَيْنَ مُنْسَجِمٍ مِنْهُ وَمضْطَــــرِمِ
Apakah diri yang dirundung nestapa karena cinta mengira bahwa api cinta dapat disembunyikan darinya
Di antara tetesan airmata dan hati yang terbakar membara
لَوْلَا الْهَوَى لَمْ تُرِقْ دَمْعاً عَلَي طَـلَلٍ   ۞     وَلاَ أرَقْتَ لِذِكْرِ الْبَانِ وَالْعَلـَـــمِ
Andaikan tak ada cinta yang menggores kalbu,  tak mungkin engkau mencucurkan air matamu
Meratapi puing-puing kenangan masa lalu berjaga mengenang pohon ban dan gunung yang kau rindu
فَكَيْفَ تُنْكِرُ حُباًّ بَعْدَ مَا شَــهِدَتْ     ۞     بِهِ عَلَيْكَ عُدُوْلُ الدَّمْعِ وَالسَّـــقَمِ
Bagaimana kau dapat mengingkari cinta sedangkan saksi adil telah menyaksikannya
Berupa deraian air mata dan jatuh sakit amat sengsara

وَأَثْبَتَ الْوَجْدُ خَطَّيْ عَبْرَةٍ وَّضَــنىً  
      ۞     مِثْلَ الْبَهَارِمِ عَلَى خَدَّيْكَ وَالْعَنَــــمِ[1]
Duka nestapa telah membentuk dua garisnya isak tangis dan sakit lemah tak berdaya
Bagai mawar kuning dan merah yang melekat pada dua pipi


B. Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah sosiologi pengarang yang merupakan salah satu cabang dari sosiologi sastra. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, sosiologi sastra merupakan pengetahuan tentang sifat dan perkembangan dari masyarakat atau mengenai sastra karya para kritikus dan sejarawan yang terutama mengungkapkan pengarang yang dipengaruhi oleh status lapisan masyarakat tempat ia berasal, ideologi politik dan sosialnya, kondisi ekonimi serta khalayak yang ditujunya.
Hippoyte Taine, seorang kritikus naturalis Prancis sebagai peletak dasar sosiologi sastra modern berpendapat bahwa sebuah karya sastra merupakan faktor yang dipengaruhi ras (apa yang diwarisi manusia dalam jiwa dan raganya), moment (situasi sosial politik pada masanya), dan lingkungan (keadaan alam, iklim, dan sosial).[2]
Pendekatan sosiologi sastra jelas merupakan hubungan antara satra dan masyarakat,  literature is an exspreesion of society, artinya sastra adalah ungkapan perasaan masyarakat. Maksudnya, masyarakat mau tidak mau harus mencerminkan dan mengespresikan hubungan yang nyata antara sastra dan masyarakat , menurut Wellek dan Werren, sosiologi sastra dapat diteliti melalui; 1.Sosiologi pengarang, 2.Sosiologi karya sastra, 3.Sosiologi pembacanya.[3] Namun karena keterbatasan waktu, penulis hanya meneliti sosiologi pengarang, sehingga yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah hal-hal yang berkaitan dengan sejarah hidup Imam Bushiri sebagai pengarang qasidah burdah, baik dari segi latar belakang sosial budaya pengarang, ideologi, posisi sosial, proses dan latar belakang penciptaan Burdah.
C. Analisis
·         Latar Belakang Sosial Budaya Pengarang
Pengarang qasidah burdah bernama Muhammad bin Said bin Hammad As-Shan’haji Al-Bushiri, beliau lahir pada awal Syawwal Tahun 608 H[4] di daerah Dallas dan dibesarkan di Bushir, Mesir, maka dari itu beliau diberi gelar Al-Bushiri.
Imam Bushiri telah banyak membuat syair,sebagian diantaranya telah di cetak, dan yang paling cukup dikenal adalah qashidah Burdah yang disambut baik oleh para ahli syair ulung dari timur sampai ketanah air kita. Burdah  memiliki pengaruh yang sangat besar di dunia mayorits Muslimin di berbagai penjuru dunia, bahkan di perctakan Darul kutub al Misri qasidah ini di tulis dengan tinta emas. Karena syair-syair burdah yang sngat indah, banyak  buku-buku syarh (penjelasan qasidah) dibuat oleh para ulama, diantara syarh burdah yang terkenal adalah:
1. Kitab Syarh burdah oleh Abdurrahman bin Kholdun (Ibnu Kholdun 732 H)
2. Syeikh Muhammad bin Aarzuq Al-Hafidi (742 H)
3. Syeikh Ibnu Ho'ig Muhammad bin Abdurrahman ( 776 H)
4. Syeikh Muhammad bin Ahmad Marzuq (781 H)
5. Ibnu Qosor (790 H)
6. Syeikh Muhammad bin Bahadir Al-Zarkasyi (818 H)
7. Kitab Igosah Al-Lahan oleh Inbu Nahwiyah (818 H)
8. Sekh Ibnu Hisyam Abdullah bin Yusus (861 H)
9 . Syekh Jalaluddin Al-Mahaly (guru Imam Suyuthi) (864 H)
10. Muhammad Al-Sausi Al-Tauhidi ( 895 H)
11. Syekh Kholid Al-Azhary (905 H)
12. Syeikh Zakariya Al-Anshori (926 H)
13. Syekh Muhammad bin Hajar (1009 H)
14. Syekh Burhanuddin Al-Laqony (1041 H)
15. Kitab Syifa'u al Qolb al Jarih oleh  Al-Faqih Al-Magribi ibnu Asyur Al-Anshori (1284 H)[5]
Selain Burdah,masih ada Shalawat Mudhoriyah. Shalawat ini salah satu syair karya Imam Al-Bushiri yang sangat besar keutamaanya, dinamakan Mudhoriyah karena salah satu Datuk Nabi Muhammad bernama Mudhor. Salah satu keistimewaan shalawat ini disebutkan dalam kitab Bughya Ahl Al-'ibadah wa Al Aurad Syar Ratib  Qutb Zamanih Al-Haddad karya Al Habib Alwi bin Ahmad Al-Haddad, dikisahkan Imam Al-Bushiri menyusun shalawat ini dipinggir pantai, ketika sampai pada syair no.34 yang berbunyi:
"ثم الصلاة على المختار ما طلعت شمس النهار وما قد شعشع القمر"
tiba-tiba dari tengah laut datang seorang laki-laki yang berlari diatas air menghampiri beliau sambil berdiri dihadapannya sambil berkata "Cukup, akhirilah shalawatmu sampai bait ini, karena kamu telah mebuat lelah para Malaikat yang mencatat keutamaan pahala shalawat ini”, Imam Bushiri pun segera menutup shalawatnya dengan permohonan ridho Allah untuk keluarga Rasulullah dan para Sahabatnya.
Imam Bushiri menghembuskan nafas terakhir dikota Iskandariyah,Mesir, pada tahun 696 H atau 1296 M, Imam Bushiri dimakamkan di samping sebuah masjid besar yang bersambung dengan makamnya, tak jauh dari masjid dan makam sang guru, Syaikh Imam Abu Al-Abbas Al-Mursi.[6]
·         Posisi Sosial Pengarang
Imam Bushiri memiliki kedudukan yang tinggi di kalangan masyarakat, namun kedudukannya yang tinggi itu tak membuat ia berbangga diri, karena tujuan hidupnya bukanlah mencari kedudukan tinggi di masyarakat melaikan mencari kedudukan tinggi di hadapan Allah, itu semua dapat terlihat ketika suatu hari beliau akan diangkat menjadi pegawai pemerintahan kerajaan Mesir, tetapi karena melihat perilaku pegawai kerajaan yang tidak cocok dengan prinsipnya, beliau pun menolaknya.
Kemahirannya di bidang sastra ini melebihi para penyair pada zamannya. Karya-karya kaligrafinya juga terkenal, Tulisannya sangat indah. Beliau mempelajari disiplin ilmu khat dan kaidah-kaidahnya dari Syaikh Ibrahim bin Abu Abdillah Al-Bushiri. Penguasaannya tentang khat (Kaligrafi), baik praktis maupun teoritis membuat banyak pelajar menimba ilmu kepadanya. Dalam seminggu, yang belajar ilmu ini kepadanya lebih dari seribu orang. Sebagian ahli sejarah menyatakan, bahwa ia mulanya bekerja sebagai penyalin naskah-naskah, Louis Ma’luf juga menyatakan demikian di dalam Kamus Munjibnya. Namun akhirnya beliau meninggalkan tugas-tugasnya dan meninggalkan kesenangan dunia , lalu menyendiri dalam kehidupan tasawuf dan menghabiskan waktunya untuk beribadah sehingga beliau pergi ke Iskandariyah (Alexandria) untuk belajar tasawuf kepada Al-Quthb Abul Abbas Al-Mursi.[7]
·         Latar Belakang Pembuatan Burdah
Sebetulnya qashidah burdah  yang disusun oleh Imam Bushiri ini nama aslinya adalah Al-Kawakib ad-Durriyyah fi Madhi Khair Al-Bariyyah (Bintang-bintang Gemerlap tentang Pujian terhadap Sang Manusia Terbaik), namun kemudian lebih dikenal dengan nama Burdah al-Madih al-Mubarakah atau Burdah saja. Imam Bushiri menulis qasidah  ini semata-mata untuk memuji Nabi Saw dan tidak mengharapkan sesuatu berupa harta benda.
Imam al-Bushiri hidup pada masa transisi, yakni kekuasaan Dinasti Ayyubiyah ke Dinasti Mamalik Bahriyah dimana pergolakan politik terus berlangsung, akhlak masyarakat merosot, para pejabat pemerintah mengejar kedudukan dan kemewahan. Munculnya qashidah burdah ini juga merupakan reaksi terhadap situasi politik, sosial dan kultur pada masa itu, agar mereka mengingat dan mau mencontoh kehidupan Nabi Saw.
Namun, sebab utama Imam Bushiri menyusun Qasidah ini karena Imam Bushiri tekena penyakit lumpuh sehingga ia tidak mampu menggerakkan sebagian tubuhnya, ia telah berobat ke berbagai tempat namun kesembuhan tak kunjung ia dapatkan, pada akhirnya ia mencoba membuat syair-syair  pujian kepada Rasulullah dan berharap keberkahan dari Rasulullah sehingga Allah memberikan kesembuhan kepadanya, hingga pada suatu hari dia membacakan beberapa sajak pujian dan ia tidak dapat menahan kantuknya, lantas tertidur dan bermimpi. Dalam mimpinya, ia berjumpa Nabi Muhammad saw dan tangan Nabi yang mulia itu pun menyentuh tubuh Imam Bushiri, sehingga setelah Nabi menyentuh bagian tubuhnya yang lumpuh, beliau memberikan jubah sufi (Burdah) kepada al-Bushiri,  kemudian ia terbangun dalam keadaan sembuh dan mampu berdiri seperti sediakala.
Kejadian Imam Bushiri ketika berjumpa dengan Rasul tidak pernah diberitahukan kepada seorang pun. Sampai kemudian ada faqir sufi menemui Imam Bushiri dan berkata kepadanya: Aku mengharapkan engkau memberikan kepadaku qasidah yang engkau buat untuk memuji Rasulullah Saw  Imam Bushiri menjawab: Yang mana?”,Mereka berkata: “qashidah  yang engkau karang sewaktu sakitmu.” Kemudian Faqir itu menyebutkan bait pertama qashidah burdah :
أَمِنْ تَذَكُّرِ جِيْرَانٍ بِذِيْ سَلَامِ lalu ia berkata lagi: “Demi Allah, sungguh aku mendengarnya kemarin ketika disenandungkan di samping Rasulullah Saw sampai beliau Saw pun bergerak-gerak kemudian Nabi Saw memberikan burdah (selimut) kepada orang yang menyenandungkannya itu (Imam Bushiri).” Perkataan mereka pun membuat Imam Bushiri heran dan akhirnya Bushiri memberikan catatan qasidah burdah kepada faqir sufi itu.[8]
·         Ideologi Pengarang
Sejak kecil, Imam Bushiri sudah menghafalkan Al-Qur’an serta mempelajari ilmu-ilmu agama dan bahasa Arab. Beliau dididik oleh ayahnya sendiri dalam mempelajari Al-Qur’an, disamping berbagai ilmu pengetahuan lainnya, sehingga di usia yang masih sangat muda beliau sudah menghafal Al-Qur’an.
Al-Bushiri juga berguru kepada banyak tokoh ulama, diantaranya : Syaikh Ibrahim bin Abu Abdillah Al-Bushiri untuk  mempelajari disiplin ilmu khat dan kaidah-kaidahnya.  Belajar ilmu tasawuf kepada Al-Quthb Abul Abbas Al-Mursi –anggota Tarekat Syadziliyah-. Al-Bushiri dan Ibnu ‘Athaillah As-Sakandari adalah dua murid dari Abu Abbas. Bila Al-Bushiri di anugrahi keunggulan dalam bentuk syair, sedangkan Ibnu ‘Athaillah (Pengarang Al-Hikam) dianugrahi keunggulan dalam bentuk prosa (natsar). Imam Bushiri juga belajar ilmu agama kepada Abu Hayyan Atsirudin Muhammad bin Yusuf Al-Ghamathi Al-Andalusi, Fathuddin Abul Fath Muhammad bin Muhammad Al-Umari Al-Andalusi Al-Isybili Al-Mushri, yang terkenal dengan sebutan Ibn Sayyidin Nas dan ‘Izz bin Jama’ah Al-Kanani Al-Hamawi.[9]
Dari sanad keguruan Imam Bushiri dapat disimpulkan bahwa  dalam ilmu tasawuf beliau mengambil tarekat Syadziliyah , sedangkan di bidang ilmu fiqih, Al-Bushiri menganut mazhab Syafi’i yang merupakan mazhab fiqih mayoritas di Mesir. Dan dari data tersebut bisa disimpulkan betapa luasnya ilmu Imam Bushiri, yang telah berguru ke berbagai ulama besar pada zamannya, maka wajarlah jika keberkahan, kewara’an dan kewalian nampak pada diri beliau sehingga dapat membuat qasidah burdah  yang berisi sya’ir-sya’ir  yang begitu indah.
Tarekat Syadziliyah merupakan aliran yang didirikan oleh Abu al-Hasan al-Syadzili, Selanjutnya nama tarekat ini dinisbahkan kepada namanya Syadziliyah  yang mempunyai ciri khusus yang berbeda dengan tarekat-tarekat yang lain. Al-Syadzili  mengajarkan bahwa tasawuf adalah latihan-latihan jiwa dalam rangka ibadah dan menempatkan diri sesuai dengan ketentuan Allah SWT. Tasawuf memiliki empat aspek penting, yakni berakhlak dengan akhlak Allah SWT, senantiasa menjalankan perintah-Nya, dapat menguasai hawa nafsu serta berupaya selalu bersama dan berkekalan dengan-Nya secara sungguh-sungguh (sentiasa mengingati Allah SWT).
Ideologi tarekat Syadziliyah tentang menguasai hawa nafsu tergambarkan di qasidah burdah Imam Bushiri pada bait ke-18 sampai bait ke-22:
وَالنّفْسُ كَالطّفِلِ إِنْ تُهْمِلْهُ شَبَّ عَلَى ۞     حُبِّ الرَّضَاعِ وَإِنْ تَفْطِمْهُ يَنْفَطِمِ
Nafsu bagaikan bayi, bila kau biarkan maka ia akan tetap suka menyusu.
Namun bila kau sapih, maka bayi akan berhenti sendiri

فَاصْرِفْ هَوَاهَا وَحَاذِرْ أَنْ تُوَلِّيَهُ       ۞     إِنّ الْهَوَى مَا تَوَلَّى يُصِمْ أَوْ يَصِمِ
Maka jauhkan nafsumu dari kenikmatan syahwat, jangan biarkan ia berkuasa
Sesungguhnya nafsu jikalau berkuasa akan membunuhmu atau paling tidak membuatmu tercela

وَرَاعِهَا وَهْيَ فِيْ الأَعْمَالِ سَآئِمَةٌ       ۞     وَإِنْ هِيَ اسْتَحْلَتِ الْمَرْعَى فَلاَتُسِمِ
Dan gembalakanlah nafsu, karena nafsu (perbuatan maksiat) bagaikan hewan ternak
Jika nafsu telah merasa nyaman dalam kebaikan, maka  jagalah dan jangan kau lengah

كَمْ حَسّنَتْ لَذّةً لِلْمَـــــــرْءِ قَاتِلَةً         ۞     مِنْ حَيْثُ لَمْ يَدْرِ أَنّ السَّمَّ فِي الدَّسَمِ
Betapa banyak kelezatan, justru bagi seseorang membawa kematian
Karena tanpa diketahui, adanya racun tersimpan dalam makanan[10]

وَاخْشَ الدَّسَائِسَ مِنْ جُوعٍ وَّمِنْ شَبَعِ ۞     فَرُبّ مَخْمَصَةٍ شَرُّ مِنَ التُّخَمِ[11]
Takutlah  terhadap tipu dayanya lapar dan kenyang
Sebab sering terjadi rasa lapar lebih daripada kenyang

                Pada bait tersebut Imam Bushiri menjelaskan bahaya hawa nafsu dengan sya’ir-sya’ir  yang sangat indah dan penuh dengan makna, dengan menyerupakan nafsu dengan anak kecil dan memberikan nasehat agar kita bisa mengendalikan nafsu kita, karena sesungguhnya kenikmatan pada hawa nafsu hanyalah tipu daya belaka.
Bagi Al-Syadzili, jalan yang harus menjadi pegangan seorang sufi menuju Tuhan ada empat hal, keempat hal tersebut ialah: 1. Dzikir, fondasinya adalah perbuatan-perbuatan yang benar, buahnya (hasilnya) adalah illuminasi. 2.  Meditasi (tafakkur), landasannya adalah ketekunan, buahnya adalah pengetahuan 3. Kefakiran, landasannya adalah rasa syukur, buahnya adalah meningkatkan rasa syukur. 4. cinta, dengan tidak mencintai dunia dan isinya, buahnya adalah persatuan dengan penuh rasa cinta.
Ajaran syadziliyyah  tentang kefakiran tergambarkan dalam qasidah ini pada bait ke-30 sampai bait ke-33:

وَشَدّ مِنْ سَغَبٍ أَحْشَاءَهُ وَطَوٰى       ۞     تَحْتَ الْحِجَارَةِ كَشْحًا مُتْرَفَ الَدَمِ
Nabi yang begitu hebat, menahan nafsu dan lapar
Mengikatkan batu halus pada perut, karena begitu zuhud kedunyaan

وَرَاوَدَتْهُ الْجِبَالُ الشُّمّ مِنْ ذَهَبٍ      ۞     عَنْ نَفْسِهِ فَأَرَاهَا أَيَّمَا شَمَمِ
Nabi yang ditawarkan gunun emas menjulang tinggi
Namun beliau tolak, dengan bangga perasaan hati

وَأَكَّدَتْ زُهْدَهُ فِيْهَا ضَرُورَتُهُ  ۞     إِنَّ الضَرُورَةَ لَا تَعْدُوْ عَلىَ الْعِصَمِ
Sungguh itu menambah kezuhud-an Nabi, butuh kepada harta namun menolaknya
Meskipun ketika butuh harta, tidaklah merusak nilai kesuciannya

فَكَيْفَ تَدْعُوا إِلَي الدّنْــيـــا ضَرُورَةُ مَنْ  ۞     لَوْلَاهُ لَمْ تَخْرُجِ الدّنْيَا مِنَ العَدَمِ[12]
Bagaimana mungkin Nabi nan mulia tertarik kepada kemilau harta dunia
Sedangkan jika tanpa nabi Muhammad Saw, dunia takkan pernah ada
                Pada bait tersebut Imam Bushiri mengajarkan kita agar bisa menjadi orang yang zuhud sebagaimana Nabi yang tidak tertipu oleh keindahan duniawi, karena kefakiran terhadap dunia tidak akan membuat seseorang jadi hina, dan rela akan kefakiran adalah bukti seorang hamba yang bersyukur akan nikmat dari Tuhannya. Dan bait ke-33 yang berbunyi “ Andai saja tanpa Nabi Muhammad, dunia takkan pernah ada “ merupakan hasil pemikiran yang berasal dari hadits qudsi, dimana Allah berfiman kepada Nabi “ يا محمد لولاك ما خلقت الأفلاك “, yang artinya “ kalau bukan karenamu wahai Muhammad, maka Aku tidak akan ciptakan alam semesta beserta isinya “.
Sedangkan ajaran syadziliyyah  tentang cinta sebenarnya tergambarkan di setiap bait dalam qasidah burdah, karena qasidah ini dibuat atas dasar cinta terhadap Rasul,walaupan di dalam burdah terdapat bait-bait tentang peringatan bahaya hawa nafsu, perjuangan sahabat, dan ditutup dengan munajat, namun pada hakekatnya bait-bait itu dibuat berlandaskan cinta kepada Rasul karena Allah, karena cinta terhadap Rasul merupakan tanda iman seseorang, sebagaimana disabdakan oleh Nabi Muhammad dan diriwayatkan di dalam Sahih Bukhori :
لا يؤمن أحدكم حتى أكون أحب إليه من والده وولده والناس أجمعين  
Tidaklah seseorang di antara kalian beriman kecuali sampai aku (Muhammad) lebih dicintai olehnya dari pada orangtuanya, anaknya, dan segenap manusia”.  Dan sebagaimana firman Allah di dalam surat At-Taubah ayat 24 :
قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّىٰ يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ  وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ
Katakanlah: "jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya, dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik”
                Namun bait cinta kepada Rasul yang paling menonjol dalam qasidah ini terdapat pada bait pertama hingga bait ke tiga :
أمِنْ تَذَكُّرِ جِيْرَانٍ بِذِيْ سَــــلَــمٍ         ۞     مَزَجْتَ دَمْعًا جَرَيْ مِنْ مُقْلَةٍ بِـــدَمِ
Apakah karena mengingat para kekasih di Dzi Salam sana
Engkau deraikan air mata dengan darah duka
أَمْ هَبَّتِ الرِّيْحُ مِنْ تِلْقَاءِ كَاظِمَـــةٍ      ۞    وَأَوْمَضَ الْبَرْقُ فِيْ الْضَمَآءِ مِنْ إِضَـمِ
Ataukah karena hembusan angin terarah lurus berjumpa di Kadhimah
Dan kilatan cahaya gulita malam dari kedalaman jurang Idham
فَمَا لِعَيْنَيْكَ إِنْ قُلْتَ اكْفُفَا هَمَتَــا     ۞     وَمَا لِقَلْبِكَ إِنْ قُلْتَ اسْتَفِقْ يَهِـــــمِ[13]
Mengapa kedua air matamu tetap meneteskan airmata? Padahal engkau telah berusaha membendungnya
Apa yang terjadi dengan hatimu? Padahal engkau telah berusaha menghiburnya
                Bait tersebut menggambarkan betapa besarnya cinta Imam Bushiri  kepada sang Nabi, Imam Bushiri menyebutkan nama-nama tempat seperti Dzi Salam, Kadhimah, Idam yang merupakan nama-nama tempat di dekat kota madinah yang membuatnya teringat kenangan-kenangan yang dilewati Sang Nabi SAW. Sudah menjadi kelaziman bagi para penyair Arab klasik dalam mengawali karya syairnya selalu merujuk pada tempat di mana ia memperoleh kenangan mendalam, khususnya kampung halamannya.  Maka wajarlah Imam Bushiri mengawali qasidahnya dengan menyebutkan nama-nama tempat di daerah Madinah yang merupakan tempat Nabi tinggal dan dimakamkan. Sebagaimana Dzi Salam yang merupakan salah satu tempat yang dilewati Nabi ketika hijrah dari Makkah ke Madinah , Kadhimah yang merupakan jalan dari Madinah ke Mekkah, dan Idam adalah sebuah jurang di Madinah.[14]
                Bahkan pada bait pertama, Imam Bushiri menggambarkan kesedihannya yang begitu dalam ketika mengingat tempat-tempat yang mengingatkannya kepada kekasihnya Nabi Muhammad dengan menggunakan kalimat istia’rah tashrihiyah yang meminjam kalimat “darah duka (مُقْلَةٍ بِـــدَمِ)”  untuk menunjukkan betapa besarnya rindu sang Imam kepada kekasihnya hingga air mata terus mengalir di wajahnya dengan sangat deras tanpa bisa dihentikan.
      Qasidah ini tidak sepenuhnya dibuat oleh Imam Bushiri, karena ada satu potongan bait yang dibantu oleh Rasulullah dalam pembuatannya, sebagaimana dikisahkan Tatkala Imam Bushiri menyusun qasidah ini, ia jumpa dengan Nabi Saw di dalam mimpi, Imam al-Bushiri pun melagukannya di sisi Nabi Saw sehingga Nabi Saw bergerak seperti halnya dedahanan pohon yang bergerak, Ketika sampai pada bait ke-51:
فَمَبْلَغُ الْعِلْمِ فِيْهِ أَنَّهُ بَشَرٌ ۞
“Puncak pengetahuan apapun tentangnya, Nabi Saw tetaplah manusia”
Imam al-Bushiri tidak bisa meneruskan bait tersebut lalu Rasulullah Saw berkata kepadanya: “Bacalah.”, Imam al-Bushiri menjawab: Saya tidak bisa membuat mishra’ (suatu ‘ajz atau rangkaian kedua dari satu bait) terhadap mishra’nya yang pertama, Lalu Rasulullah Saw yang meneruskannya dengan berkata:
وَأَنَّهُ خَيْرُ خَلْقِ اللَّهِ كُلِّهِمِ
“Dan sungguh ia adalah paling baiknya seluruh ciptaanNya”
Karena itulah Imam al-Bushiri memasukkan mishra’  ini ke dalam baitnya tersebut, persis seperti yang diucapkan oleh Rasulullah Saw. Dan ia pun membacanya berulang-ulang setiap selesai membaca satu bait Qashidah Burdah, karena kecintaannya pada lafadz yang diberikan Nabi Saw itu.[15]












KESIMPULAN
                Imam Bushiri memiliki peran besar dalam dunia islam khususnya di bidang sastra, karena qasidah ciptaannya yang berjudul burdah begitu indah dan sangat berguna bagi para pembacanya, latar belakang dan proses penciptaan burdah  yang menyimpan banyak cerita penuh hikmah menjadi bukti bahwa qasidah ini bukanlah qasidah biasa, bahkan Dr. De Sacy, seorang ahli Bahasa Arab di Universitas Sorbone, mengatakan bahwa qashidah burdah merupakan puisi terbaik sepanjang masa karena keindahan syair-syair nya.
                Qasidah ini dibuat ketika Imam Bushiri sakit lumpuh, maka dengan membuat syair-syair  pujian kepada Rasulullah dan berharap keberkahan dari Rasulullah, Allah pun memberikan kesembuhan kepadanya, kesembuhan itu datang setelah Imam Bushiri bermimpi berjumpa dengan Nabi Muhammad dan Nabi pun meletakkan tangannya ke tubuh Imam Bushiri lalu memberikan jubah (burdah) kepadanya, dan ketika bangun dari tidurnya ia pun kembali dalam keadaan sehat.
                Namun tidak dipungkiri lagi, bahwa kesuksesan Imam Bushiri menjadi penyair hebat tak lepas dari besarnya perjuangannya dalam menuntut ilmu ke berbagai tempat untuk menimba ilmu kepada para ulama besar, diantaranya adalah  Al-Quthb Abul Abbas Al-Mursi sebagai guru utama Imam Bushiri yang mengajarkannya tarekat syadziliyyah, sehingga terciptalah qasidah burdah yang dipenuhi dengan landasan pemikiran tarekat syadziliyyah.
               
               






Daftar Pustaka
Al-bajuri, Ibrahim, Syarh Burdah, Kairo : Maktabah Al-Shafa, 1993
Kamil,Syukron Teori Kritik Sastra Arab Klasik dan Modern, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2009
Mubarak, Ali Basya, Khithathu at-Taufiqiyyah al-Jadidah , Mesir : Maktabah Usrah, 2008
Al-Haitami, Ahmad , Al-Umdah Fi Syarh Burdah, Bairut : Daar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1971
Al-Haddad, Alwi, Bugyah Ahlu Al-Ibadah wa Al-Aurad, Yaman : Maktabah Al-Ahqaf
http://ulinuhaasnawi.blogspot.com/2014/01/sair-burdah-lengkap-dengan-terjemah-nya.html
https://pusatbahasaalazhar.wordpress.com/pesona-puisi/sosiologi-sastra/
http://mbahshodiq.blogspot.co.id/2011/07/imam-bushiri-bag-ii.html
http://mallaaulia.blogspot.co.id/2014/03/imam-al-bushiri-dan-karya-terkenalnya.html
http://alam-shalawat.blogspot.co.id/2014/09/latar-belakang-munculnya-qashidah-burdah.html
https://www.nurulfajri.org/burdah-maha-karya-imam-al-bushiri-rhm/






[1] Ibrahim Al-Bajuri, Syarh Burdah, Kairo : Maktabah Al-Shafa, 1993, hal.33
[2] Prof. Dr. Syukron Kamil M.A, Teori Kritik Sastra Arab Klasik dan Modern, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2009, hlm. 114
[4] Ali Basya Mubarak, Khithathu at-Taufiqiyyah al-Jadidah , Mesir : Maktabah Usrah, 2008, hlm.16
[5] http://mbahshodiq.blogspot.co.id/2011/07/imam-bushiri-bag-ii.html, dikutip pada tanggal 4 Januari 2017, Pukul: 21:00
[7] Ahmad al-Haitami, al-Umdah Fi Syarh Burdah, Bairut : Daar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1971
[9] https://www.nurulfajri.org/burdah-maha-karya-imam-al-bushiri-rhm/ dikutip pada tanggal 4 Januari 2017, Pukul: 21:00
[10] http://ulinuhaasnawi.blogspot.com/2014/01/sair-burdah-lengkap-dengan-terjemah-nya.html
[11] Ibrahim Al-Bajuri, Syarh Burdah, Kairo : Maktabah Al-Shafa, 1993, hal.37
[12] Ibrahim Al-Bajuri, Syarh Burda, Kairo : Maktabah Al-Shafa, 1993, hal.40
[13] Ibrahim Al-Bajuri, Syarh Burda, Kairo : Maktabah Al-Shafa, 1993, hal.33
[14] Ibrahim Al-Bajuri, Syarh Burdah, Kairo : Maktabah Al-Shafa, 1993, hal.33


Tidak ada komentar:

Posting Komentar