Sosiologi Pengarang
|
Qasidah Burdah
|
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Qashidah
burdah adalah salah satu karya paling populer dalam khazanah
sastra Islam. Qasidah ini terdiri
dari 160 bait dan berisi tentang sajak sajak pujian kepada Nabi Muhammad, pesan
moral, nilai-nilai spiritual, dan semangat perjuangan. Hingga kini burdah masih
sering dibacakan di berbagai Pesantren salaf dan berbagai majelis-majelis
dzikir dan shalwat. Qasidah ini juga telah diterjemahkan ke berbagai
bahasa, seperti Persia, Turki, Urdu, Punjabi, Swahili, Pastum,
Indonesia/Melayu, Inggris, Prancis, Jerman, Italia.
Burdah memiliki pengaruh yang begitu besar terhadap
perkembangan kesusastraan Arab dan non-Arab , di Hadhramaut dan banyak daerah
Yaman lainnya diadakan pembacaan qashidah burdah setiap subuh hari
Jum’at atau ashar hari Selasa. Sedangkan para ulama Al-Azhar di kota Mesir
banyak yang mengkhususkan hari Kamis untuk pembacaan Burdah dan mengadakan
kajian. Sampai kini masih diadakan pembacaan burdah di masjid-masjid
besar di kota Mesir, seperti Masjid Imam Al-Husain, Masjid As-Sayyidah Zainab.
Di negeri Syam (Syiria) majelis-majelis qashidah
burdah juga diadakan di rumah-rumah dan di masjid-masjid, dan dihadiri para
ulama besar. Di Maroko pun biasa diadakan majelis-majelis besar untuk pembacaan
qashidah burdah dengan lagu-lagu yang merdu dan indah yang setiap pasal
dibawakan dengan lagu khusus.
Qasidah
ini
juga diterima secara utuh oleh mayoritas masyarakat Indonesia, khususnya di
kalangan Pesantren salaf yang hingga saat ini masih menjadikan qashidah burdah
sebagai salah satu kitab yang wajib dikaji oleh para santri. Bahkan, qashidah
burdah telah menjadi kurikulum Pesantren sebagai bagian dari proses
belajar-mengajar dalam kehidupan pesantren.
Dr.
De Sacy, seorang ahli Bahasa Arab di Universitas Sorbone, mengatakan bahwa qashidah
burdah merupakan puisi terbaik sepanjang masa karena keindahan
syair-syairnya. Betapa hebatnya Imam Bushiri yang telah menggugah banyak umat
Islam melalui qasidahnya yang sangat indah, maka dari itu penulis merasa
terdorong untuk meneliti lebih mendalam tentang siapa itu imam Bushiri sang
pencipta qasidah yang begitu indah ini.
PEMBAHASAN
A. Penggalan Qasidah Burdah
قصيدة البردة
للناظم الشيخ محمد البوصيري
في الغزل وشكوى الغرام
Bercumbu dan pengaduan cinta
أَمِنْ تَذَكُّرِ جِيْرَانٍ بِذِيْ
سَــــلَــمٍ ۞ مَزَجْتَ دَمْعًا جَرَيْ مِنْ
مُقْلَةٍ بِـــدَمِ
Apakah karena
mengingat para kekasih di Dzi Salam sana
Engkau deraikan air mata dengan
darah duka
أَمْ هَبَّتِ الرِّيْحُ مِنْ
تِلْقَاءِ كَاظِمَـــةٍ ۞
وَأَوْمَضَ الْبَرْقُ فِيْ الْضَمَآءِ مِنْ إِضَـمِ
Ataukah karena
hembusan angin terarah lurus berjumpa di Kadhimah.
Dan kilatan cahaya gulita malam dari
kedalaman jurang idham
فَمَا لِعَيْنَيْكَ إِنْ قُلْتَ
اكْفُفَا هَمَتَــا ۞
وَمَا لِقَلْبِكَ إِنْ قُلْتَ اسْتَفِقْ يَهِـــــمِ
Mengapa kedua
air matamu tetap meneteskan airmata? Padahal engkau telah berusaha membendungnya
Apa yang terjadi dengan hatimu?
Padahal engkau telah berusaha menghiburnya
أَيَحَسَبُ الصَّبُّ أَنَّ الْحُبَّ
مُنْكَتـــِمٌ ۞ مَا بَيْنَ
مُنْسَجِمٍ مِنْهُ وَمضْطَــــرِمِ
Apakah diri yang
dirundung nestapa karena cinta mengira bahwa api cinta dapat disembunyikan
darinya
Di antara tetesan airmata dan hati
yang terbakar membara
لَوْلَا الْهَوَى لَمْ تُرِقْ دَمْعاً
عَلَي طَـلَلٍ ۞ وَلاَ
أرَقْتَ لِذِكْرِ الْبَانِ وَالْعَلـَـــمِ
Andaikan tak ada
cinta yang menggores kalbu, tak mungkin engkau mencucurkan air matamu
Meratapi puing-puing kenangan masa
lalu berjaga mengenang pohon ban dan gunung yang kau rindu
فَكَيْفَ تُنْكِرُ حُباًّ بَعْدَ مَا
شَــهِدَتْ ۞ بِهِ
عَلَيْكَ عُدُوْلُ الدَّمْعِ وَالسَّـــقَمِ
Bagaimana kau dapat mengingkari cinta sedangkan saksi adil
telah menyaksikannya
Berupa deraian air mata dan jatuh sakit amat sengsara
وَأَثْبَتَ الْوَجْدُ خَطَّيْ عَبْرَةٍ وَّضَــنىً ۞ مِثْلَ الْبَهَارِمِ عَلَى خَدَّيْكَ وَالْعَنَــــمِ[1]
Duka nestapa
telah membentuk dua garisnya isak tangis dan sakit lemah tak berdaya
Bagai mawar
kuning dan merah yang melekat pada dua pipi
B. Metode Penelitian
Metode
yang digunakan dalam penelitian ini adalah sosiologi pengarang yang merupakan
salah satu cabang dari sosiologi sastra. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia,
sosiologi sastra merupakan pengetahuan tentang sifat dan perkembangan dari
masyarakat atau mengenai sastra karya para kritikus dan sejarawan yang terutama
mengungkapkan pengarang yang dipengaruhi oleh status lapisan masyarakat tempat
ia berasal, ideologi politik dan sosialnya, kondisi ekonimi serta khalayak yang
ditujunya.
Hippoyte
Taine, seorang kritikus naturalis Prancis sebagai peletak dasar sosiologi
sastra modern berpendapat bahwa sebuah karya sastra merupakan faktor yang
dipengaruhi ras (apa yang diwarisi manusia dalam jiwa dan raganya), moment (situasi
sosial politik pada masanya), dan lingkungan (keadaan alam, iklim, dan sosial).[2]
Pendekatan
sosiologi sastra jelas merupakan hubungan antara satra dan masyarakat, literature
is an exspreesion of society, artinya sastra adalah ungkapan perasaan
masyarakat. Maksudnya, masyarakat mau tidak mau harus mencerminkan dan
mengespresikan hubungan yang nyata antara sastra dan masyarakat , menurut
Wellek dan Werren, sosiologi sastra dapat diteliti melalui; 1.Sosiologi
pengarang, 2.Sosiologi karya sastra, 3.Sosiologi pembacanya.[3]
Namun karena keterbatasan waktu, penulis hanya meneliti sosiologi pengarang,
sehingga yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah hal-hal yang berkaitan dengan sejarah hidup Imam
Bushiri sebagai pengarang qasidah burdah, baik dari segi latar
belakang sosial budaya pengarang, ideologi, posisi sosial, proses dan latar
belakang penciptaan Burdah.
C. Analisis
·
Latar Belakang Sosial
Budaya Pengarang
Pengarang
qasidah burdah bernama Muhammad bin Said bin Hammad As-Shan’haji Al-Bushiri,
beliau lahir pada awal Syawwal Tahun 608 H[4]
di daerah Dallas dan dibesarkan di Bushir, Mesir, maka dari itu beliau
diberi gelar Al-Bushiri.
Imam
Bushiri telah banyak membuat syair,sebagian diantaranya telah di cetak,
dan yang paling cukup dikenal adalah qashidah Burdah yang
disambut baik oleh para ahli syair ulung dari timur sampai ketanah air kita. Burdah memiliki pengaruh yang sangat besar di dunia
mayorits Muslimin di berbagai penjuru dunia, bahkan di perctakan Darul kutub
al Misri qasidah ini di tulis dengan tinta emas. Karena syair-syair burdah yang
sngat indah, banyak buku-buku syarh (penjelasan
qasidah) dibuat oleh para ulama, diantara syarh burdah yang terkenal
adalah:
1. Kitab Syarh burdah oleh Abdurrahman bin Kholdun (Ibnu Kholdun 732 H)
2. Syeikh Muhammad bin Aarzuq Al-Hafidi (742 H)
3. Syeikh Ibnu Ho'ig Muhammad bin Abdurrahman ( 776 H)
4. Syeikh Muhammad bin Ahmad Marzuq (781 H)
5. Ibnu Qosor (790 H)
6. Syeikh Muhammad bin Bahadir Al-Zarkasyi (818 H)
7. Kitab Igosah Al-Lahan oleh Inbu Nahwiyah (818 H)
8. Sekh Ibnu Hisyam Abdullah bin Yusus (861 H)
9 . Syekh Jalaluddin Al-Mahaly (guru Imam Suyuthi) (864 H)
10. Muhammad Al-Sausi Al-Tauhidi ( 895 H)
11. Syekh Kholid Al-Azhary (905 H)
12. Syeikh Zakariya Al-Anshori (926 H)
13. Syekh Muhammad bin Hajar (1009 H)
14. Syekh Burhanuddin Al-Laqony (1041 H)
15. Kitab Syifa'u al Qolb al Jarih oleh Al-Faqih Al-Magribi ibnu Asyur Al-Anshori (1284 H)[5]
1. Kitab Syarh burdah oleh Abdurrahman bin Kholdun (Ibnu Kholdun 732 H)
2. Syeikh Muhammad bin Aarzuq Al-Hafidi (742 H)
3. Syeikh Ibnu Ho'ig Muhammad bin Abdurrahman ( 776 H)
4. Syeikh Muhammad bin Ahmad Marzuq (781 H)
5. Ibnu Qosor (790 H)
6. Syeikh Muhammad bin Bahadir Al-Zarkasyi (818 H)
7. Kitab Igosah Al-Lahan oleh Inbu Nahwiyah (818 H)
8. Sekh Ibnu Hisyam Abdullah bin Yusus (861 H)
9 . Syekh Jalaluddin Al-Mahaly (guru Imam Suyuthi) (864 H)
10. Muhammad Al-Sausi Al-Tauhidi ( 895 H)
11. Syekh Kholid Al-Azhary (905 H)
12. Syeikh Zakariya Al-Anshori (926 H)
13. Syekh Muhammad bin Hajar (1009 H)
14. Syekh Burhanuddin Al-Laqony (1041 H)
15. Kitab Syifa'u al Qolb al Jarih oleh Al-Faqih Al-Magribi ibnu Asyur Al-Anshori (1284 H)[5]
Selain
Burdah,masih ada Shalawat Mudhoriyah. Shalawat ini salah satu
syair karya Imam Al-Bushiri yang sangat besar keutamaanya, dinamakan Mudhoriyah
karena salah satu Datuk Nabi Muhammad bernama Mudhor. Salah satu keistimewaan
shalawat ini disebutkan dalam kitab Bughya Ahl Al-'ibadah wa Al Aurad Syar
Ratib Qutb Zamanih Al-Haddad karya
Al Habib Alwi bin Ahmad Al-Haddad, dikisahkan Imam Al-Bushiri menyusun shalawat
ini dipinggir pantai, ketika sampai pada syair no.34 yang berbunyi:
"ثم الصلاة على المختار ما طلعت شمس
النهار وما قد شعشع القمر"
tiba-tiba
dari tengah laut datang seorang laki-laki yang berlari diatas air menghampiri
beliau sambil berdiri dihadapannya sambil berkata "Cukup,
akhirilah shalawatmu sampai bait ini, karena kamu telah mebuat lelah para Malaikat
yang mencatat keutamaan pahala shalawat ini”, Imam Bushiri
pun segera menutup shalawatnya dengan permohonan ridho Allah untuk keluarga Rasulullah
dan para Sahabatnya.
Imam Bushiri menghembuskan nafas
terakhir dikota Iskandariyah,Mesir, pada tahun 696 H atau 1296 M, Imam Bushiri
dimakamkan di samping sebuah masjid besar yang bersambung dengan makamnya, tak
jauh dari masjid dan makam sang guru, Syaikh Imam Abu Al-Abbas Al-Mursi.[6]
·
Posisi Sosial Pengarang
Imam Bushiri memiliki kedudukan yang
tinggi di kalangan masyarakat, namun kedudukannya yang tinggi itu tak membuat
ia berbangga diri, karena tujuan hidupnya bukanlah mencari kedudukan tinggi di
masyarakat melaikan mencari kedudukan tinggi di hadapan Allah, itu semua dapat
terlihat ketika suatu
hari beliau akan diangkat menjadi pegawai pemerintahan kerajaan Mesir, tetapi
karena melihat perilaku pegawai kerajaan yang tidak cocok dengan prinsipnya,
beliau pun menolaknya.
Kemahirannya di bidang sastra ini melebihi
para penyair pada zamannya. Karya-karya kaligrafinya juga terkenal, Tulisannya
sangat indah. Beliau mempelajari disiplin ilmu khat dan kaidah-kaidahnya
dari Syaikh Ibrahim bin Abu Abdillah Al-Bushiri. Penguasaannya tentang khat
(Kaligrafi), baik praktis maupun teoritis membuat banyak pelajar menimba ilmu
kepadanya. Dalam seminggu, yang belajar ilmu ini kepadanya lebih dari seribu
orang. Sebagian ahli sejarah menyatakan, bahwa ia mulanya bekerja sebagai
penyalin naskah-naskah, Louis Ma’luf juga menyatakan demikian di dalam Kamus
Munjibnya. Namun akhirnya beliau
meninggalkan tugas-tugasnya dan meninggalkan kesenangan dunia , lalu menyendiri dalam kehidupan
tasawuf dan menghabiskan waktunya untuk beribadah sehingga beliau pergi ke Iskandariyah
(Alexandria) untuk belajar tasawuf kepada Al-Quthb Abul Abbas Al-Mursi.[7]
·
Latar Belakang Pembuatan Burdah
Sebetulnya qashidah burdah yang disusun oleh Imam Bushiri ini nama
aslinya adalah Al-Kawakib ad-Durriyyah fi Madhi Khair Al-Bariyyah
(Bintang-bintang Gemerlap tentang Pujian terhadap Sang Manusia Terbaik), namun
kemudian lebih dikenal dengan nama Burdah al-Madih al-Mubarakah atau Burdah
saja. Imam Bushiri menulis qasidah ini semata-mata untuk memuji Nabi Saw dan
tidak mengharapkan sesuatu berupa harta benda.
Imam al-Bushiri hidup pada masa transisi, yakni
kekuasaan Dinasti Ayyubiyah ke Dinasti Mamalik Bahriyah dimana pergolakan
politik terus berlangsung, akhlak masyarakat merosot, para pejabat pemerintah
mengejar kedudukan dan kemewahan. Munculnya qashidah burdah ini juga
merupakan reaksi terhadap situasi politik, sosial dan kultur pada masa itu,
agar mereka mengingat dan mau mencontoh kehidupan Nabi Saw.
Namun, sebab utama Imam Bushiri menyusun Qasidah
ini karena Imam Bushiri tekena penyakit lumpuh sehingga ia tidak mampu
menggerakkan sebagian tubuhnya, ia telah berobat ke berbagai tempat namun
kesembuhan tak kunjung ia dapatkan, pada akhirnya ia mencoba membuat syair-syair
pujian kepada Rasulullah dan
berharap keberkahan dari Rasulullah sehingga Allah memberikan kesembuhan
kepadanya, hingga pada suatu hari dia membacakan beberapa sajak
pujian dan ia tidak dapat menahan kantuknya, lantas tertidur dan bermimpi.
Dalam mimpinya, ia berjumpa Nabi Muhammad saw dan tangan Nabi yang mulia itu
pun menyentuh tubuh Imam Bushiri, sehingga setelah Nabi menyentuh bagian
tubuhnya yang lumpuh, beliau memberikan jubah sufi (Burdah) kepada al-Bushiri, kemudian ia terbangun dalam keadaan sembuh dan
mampu berdiri seperti sediakala.
Kejadian Imam Bushiri ketika berjumpa dengan Rasul
tidak pernah diberitahukan kepada seorang pun. Sampai kemudian ada faqir sufi menemui
Imam Bushiri dan berkata kepadanya: “Aku mengharapkan engkau memberikan
kepadaku qasidah yang engkau buat untuk memuji Rasulullah Saw” Imam Bushiri
menjawab: “Yang mana?”,Mereka
berkata: “qashidah yang engkau
karang sewaktu sakitmu.” Kemudian Faqir itu menyebutkan bait
pertama qashidah burdah :
“ أَمِنْ تَذَكُّرِ جِيْرَانٍ بِذِيْ سَلَامِ ” lalu ia berkata lagi: “Demi Allah, sungguh aku mendengarnya kemarin ketika disenandungkan di samping Rasulullah Saw sampai beliau Saw pun bergerak-gerak kemudian Nabi Saw memberikan burdah (selimut) kepada orang yang menyenandungkannya itu (Imam Bushiri).” Perkataan mereka pun membuat Imam Bushiri heran dan akhirnya Bushiri memberikan catatan qasidah burdah kepada faqir sufi itu.[8]
“ أَمِنْ تَذَكُّرِ جِيْرَانٍ بِذِيْ سَلَامِ ” lalu ia berkata lagi: “Demi Allah, sungguh aku mendengarnya kemarin ketika disenandungkan di samping Rasulullah Saw sampai beliau Saw pun bergerak-gerak kemudian Nabi Saw memberikan burdah (selimut) kepada orang yang menyenandungkannya itu (Imam Bushiri).” Perkataan mereka pun membuat Imam Bushiri heran dan akhirnya Bushiri memberikan catatan qasidah burdah kepada faqir sufi itu.[8]
·
Ideologi Pengarang
Sejak kecil, Imam Bushiri sudah
menghafalkan Al-Qur’an serta mempelajari ilmu-ilmu agama dan bahasa Arab. Beliau
dididik oleh ayahnya sendiri dalam mempelajari Al-Qur’an, disamping berbagai
ilmu pengetahuan lainnya, sehingga di usia yang masih sangat muda beliau sudah
menghafal Al-Qur’an.
Al-Bushiri
juga berguru kepada banyak tokoh ulama, diantaranya : Syaikh Ibrahim bin Abu
Abdillah Al-Bushiri untuk mempelajari
disiplin ilmu khat dan kaidah-kaidahnya. Belajar ilmu tasawuf kepada Al-Quthb Abul Abbas Al-Mursi
–anggota Tarekat Syadziliyah-. Al-Bushiri dan Ibnu ‘Athaillah As-Sakandari
adalah dua murid dari Abu Abbas. Bila Al-Bushiri di anugrahi keunggulan dalam
bentuk syair, sedangkan Ibnu ‘Athaillah (Pengarang Al-Hikam)
dianugrahi keunggulan dalam bentuk prosa (natsar). Imam
Bushiri juga belajar ilmu agama kepada Abu Hayyan Atsirudin Muhammad bin Yusuf
Al-Ghamathi Al-Andalusi, Fathuddin Abul Fath Muhammad bin Muhammad Al-Umari
Al-Andalusi Al-Isybili Al-Mushri, yang terkenal dengan sebutan Ibn Sayyidin Nas
dan ‘Izz bin Jama’ah Al-Kanani Al-Hamawi.[9]
Dari
sanad keguruan Imam Bushiri dapat disimpulkan bahwa dalam ilmu tasawuf beliau mengambil tarekat Syadziliyah
, sedangkan di bidang ilmu fiqih, Al-Bushiri menganut mazhab Syafi’i yang
merupakan mazhab fiqih mayoritas di Mesir. Dan dari data tersebut bisa
disimpulkan betapa luasnya ilmu Imam Bushiri, yang telah berguru ke berbagai
ulama besar pada zamannya, maka wajarlah jika keberkahan, kewara’an dan
kewalian nampak pada diri beliau sehingga dapat membuat qasidah burdah yang berisi sya’ir-sya’ir yang begitu indah.
Tarekat
Syadziliyah merupakan aliran yang didirikan oleh Abu al-Hasan
al-Syadzili, Selanjutnya nama tarekat ini dinisbahkan kepada namanya Syadziliyah
yang mempunyai ciri khusus yang berbeda dengan
tarekat-tarekat yang lain. Al-Syadzili mengajarkan bahwa tasawuf adalah
latihan-latihan jiwa dalam rangka ibadah dan menempatkan diri sesuai dengan
ketentuan Allah SWT. Tasawuf
memiliki empat aspek penting, yakni berakhlak dengan akhlak Allah SWT, senantiasa
menjalankan perintah-Nya, dapat menguasai hawa nafsu serta berupaya selalu
bersama dan berkekalan dengan-Nya secara sungguh-sungguh (sentiasa mengingati Allah SWT).
Ideologi
tarekat Syadziliyah tentang menguasai hawa nafsu tergambarkan di qasidah
burdah Imam Bushiri pada bait ke-18 sampai bait ke-22:
وَالنّفْسُ كَالطّفِلِ إِنْ
تُهْمِلْهُ شَبَّ عَلَى ۞ حُبِّ
الرَّضَاعِ وَإِنْ تَفْطِمْهُ يَنْفَطِمِ
Nafsu
bagaikan bayi, bila kau biarkan maka ia akan tetap suka menyusu.
Namun
bila kau sapih, maka bayi akan berhenti sendiri
فَاصْرِفْ هَوَاهَا وَحَاذِرْ أَنْ
تُوَلِّيَهُ ۞
إِنّ الْهَوَى مَا تَوَلَّى يُصِمْ أَوْ يَصِمِ
Maka
jauhkan nafsumu dari kenikmatan syahwat, jangan biarkan ia berkuasa
Sesungguhnya
nafsu jikalau berkuasa akan membunuhmu atau paling tidak membuatmu tercela
وَرَاعِهَا وَهْيَ فِيْ الأَعْمَالِ
سَآئِمَةٌ ۞
وَإِنْ هِيَ اسْتَحْلَتِ الْمَرْعَى فَلاَتُسِمِ
Dan
gembalakanlah nafsu, karena nafsu (perbuatan maksiat) bagaikan hewan ternak
Jika
nafsu telah merasa nyaman dalam kebaikan, maka
jagalah dan jangan kau lengah
كَمْ حَسّنَتْ لَذّةً
لِلْمَـــــــرْءِ قَاتِلَةً ۞ مِنْ حَيْثُ لَمْ يَدْرِ أَنّ
السَّمَّ فِي الدَّسَمِ
Betapa
banyak kelezatan, justru bagi seseorang membawa kematian
Karena
tanpa diketahui, adanya racun tersimpan dalam makanan[10]
Takutlah
terhadap tipu dayanya lapar dan kenyang
Sebab
sering terjadi rasa lapar lebih daripada kenyang
Pada
bait tersebut Imam Bushiri menjelaskan bahaya hawa nafsu dengan sya’ir-sya’ir
yang sangat indah dan penuh dengan
makna, dengan menyerupakan nafsu dengan anak kecil dan memberikan nasehat agar
kita bisa mengendalikan nafsu kita, karena sesungguhnya kenikmatan pada hawa
nafsu hanyalah tipu daya belaka.
Bagi Al-Syadzili, jalan yang harus menjadi pegangan seorang
sufi menuju Tuhan ada empat hal, keempat hal tersebut ialah: 1. Dzikir, fondasinya
adalah perbuatan-perbuatan yang benar, buahnya (hasilnya) adalah illuminasi.
2. Meditasi (tafakkur), landasannya
adalah ketekunan, buahnya adalah pengetahuan 3. Kefakiran, landasannya adalah
rasa syukur, buahnya adalah meningkatkan rasa syukur. 4. cinta, dengan tidak
mencintai dunia dan isinya, buahnya adalah persatuan dengan penuh rasa cinta.
Ajaran syadziliyyah tentang kefakiran tergambarkan dalam qasidah
ini pada bait ke-30 sampai bait ke-33:
وَشَدّ مِنْ سَغَبٍ أَحْشَاءَهُ
وَطَوٰى ۞
تَحْتَ الْحِجَارَةِ كَشْحًا مُتْرَفَ
الَدَمِ
Nabi
yang begitu hebat, menahan nafsu dan lapar
Mengikatkan
batu halus pada perut, karena begitu zuhud kedunyaan
وَرَاوَدَتْهُ الْجِبَالُ الشُّمّ
مِنْ ذَهَبٍ ۞
عَنْ نَفْسِهِ فَأَرَاهَا أَيَّمَا شَمَمِ
Nabi
yang ditawarkan gunun emas menjulang tinggi
Namun
beliau tolak, dengan bangga perasaan hati
وَأَكَّدَتْ زُهْدَهُ فِيْهَا
ضَرُورَتُهُ ۞
إِنَّ الضَرُورَةَ لَا تَعْدُوْ عَلىَ
الْعِصَمِ
Sungguh
itu menambah kezuhud-an Nabi, butuh kepada harta namun menolaknya
Meskipun
ketika butuh harta, tidaklah merusak nilai kesuciannya
فَكَيْفَ تَدْعُوا إِلَي
الدّنْــيـــا ضَرُورَةُ مَنْ ۞ لَوْلَاهُ
لَمْ تَخْرُجِ الدّنْيَا مِنَ العَدَمِ[12]
Bagaimana
mungkin Nabi nan mulia tertarik kepada kemilau harta dunia
Sedangkan
jika tanpa nabi Muhammad Saw, dunia takkan pernah ada
Pada bait tersebut Imam Bushiri mengajarkan kita agar
bisa menjadi orang yang zuhud sebagaimana Nabi yang tidak tertipu oleh
keindahan duniawi, karena kefakiran terhadap dunia tidak akan membuat seseorang
jadi hina, dan rela akan kefakiran adalah bukti seorang hamba yang bersyukur
akan nikmat dari Tuhannya. Dan bait ke-33 yang berbunyi “ Andai saja tanpa Nabi
Muhammad, dunia takkan pernah ada “ merupakan hasil pemikiran yang berasal dari
hadits qudsi, dimana Allah berfiman kepada Nabi “ يا
محمد لولاك ما خلقت الأفلاك “, yang artinya “ kalau bukan karenamu wahai
Muhammad, maka Aku tidak akan ciptakan alam semesta beserta isinya “.
Sedangkan
ajaran syadziliyyah tentang cinta
sebenarnya tergambarkan di setiap bait dalam qasidah burdah, karena qasidah
ini dibuat atas dasar cinta terhadap Rasul,walaupan di dalam burdah terdapat
bait-bait tentang peringatan bahaya hawa nafsu, perjuangan sahabat, dan ditutup
dengan munajat, namun pada hakekatnya bait-bait itu dibuat berlandaskan cinta
kepada Rasul karena Allah, karena cinta terhadap Rasul merupakan tanda iman
seseorang, sebagaimana disabdakan oleh Nabi Muhammad dan diriwayatkan di dalam
Sahih Bukhori :
“لا يؤمن أحدكم حتى أكون أحب إليه من والده وولده والناس أجمعين “
“لا يؤمن أحدكم حتى أكون أحب إليه من والده وولده والناس أجمعين “
“ Tidaklah seseorang di
antara kalian beriman kecuali sampai aku (Muhammad) lebih dicintai olehnya dari
pada orangtuanya, anaknya, dan segenap manusia”. Dan sebagaimana firman Allah di dalam surat
At-Taubah ayat 24 :
قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ
وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ
اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا
أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ
فَتَرَبَّصُوا حَتَّىٰ يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ
Katakanlah:
"jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum
keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri
kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai dari Allah
dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah
mendatangkan keputusan-Nya, dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang
yang fasik”
Namun bait cinta kepada Rasul
yang paling menonjol dalam qasidah
ini
terdapat pada bait pertama hingga bait ke tiga :
أمِنْ تَذَكُّرِ جِيْرَانٍ بِذِيْ
سَــــلَــمٍ ۞ مَزَجْتَ دَمْعًا جَرَيْ مِنْ
مُقْلَةٍ بِـــدَمِ
Apakah
karena mengingat para kekasih di Dzi Salam sana
Engkau deraikan
air mata dengan darah duka
أَمْ هَبَّتِ الرِّيْحُ مِنْ
تِلْقَاءِ كَاظِمَـــةٍ ۞
وَأَوْمَضَ الْبَرْقُ فِيْ الْضَمَآءِ مِنْ إِضَـمِ
Ataukah
karena hembusan angin terarah lurus berjumpa di Kadhimah
Dan kilatan
cahaya gulita malam dari kedalaman jurang Idham
فَمَا لِعَيْنَيْكَ إِنْ قُلْتَ
اكْفُفَا هَمَتَــا ۞
وَمَا لِقَلْبِكَ إِنْ قُلْتَ اسْتَفِقْ يَهِـــــمِ[13]
Mengapa
kedua air matamu tetap meneteskan airmata? Padahal engkau telah berusaha
membendungnya
Apa yang terjadi
dengan hatimu? Padahal engkau telah berusaha menghiburnya
Bait
tersebut menggambarkan betapa besarnya cinta Imam Bushiri kepada sang Nabi, Imam Bushiri menyebutkan
nama-nama tempat seperti Dzi Salam, Kadhimah, Idam yang merupakan nama-nama
tempat di dekat kota madinah yang membuatnya teringat kenangan-kenangan yang
dilewati Sang Nabi SAW. Sudah menjadi kelaziman bagi para penyair Arab klasik
dalam mengawali karya syairnya selalu merujuk pada tempat di mana ia memperoleh
kenangan mendalam, khususnya kampung halamannya. Maka wajarlah Imam Bushiri mengawali qasidahnya
dengan menyebutkan nama-nama tempat di daerah Madinah yang merupakan tempat
Nabi tinggal dan dimakamkan. Sebagaimana Dzi Salam yang merupakan salah satu
tempat yang dilewati Nabi ketika hijrah dari Makkah ke Madinah , Kadhimah yang
merupakan jalan dari Madinah ke Mekkah, dan Idam adalah sebuah jurang di
Madinah.[14]
Bahkan pada bait pertama, Imam Bushiri menggambarkan
kesedihannya yang begitu dalam ketika mengingat tempat-tempat yang
mengingatkannya kepada kekasihnya Nabi Muhammad dengan menggunakan kalimat istia’rah tashrihiyah yang
meminjam kalimat “darah duka (مُقْلَةٍ بِـــدَمِ)” untuk menunjukkan betapa besarnya rindu sang
Imam kepada kekasihnya hingga air mata terus mengalir di wajahnya dengan sangat
deras tanpa bisa dihentikan.
Qasidah
ini tidak sepenuhnya dibuat oleh
Imam Bushiri, karena ada satu potongan bait yang dibantu oleh Rasulullah dalam
pembuatannya, sebagaimana dikisahkan Tatkala
Imam Bushiri menyusun qasidah ini, ia jumpa dengan Nabi Saw di dalam
mimpi, Imam al-Bushiri pun melagukannya di sisi Nabi Saw sehingga Nabi Saw bergerak
seperti halnya dedahanan pohon yang bergerak, Ketika sampai pada bait ke-51:
فَمَبْلَغُ
الْعِلْمِ فِيْهِ أَنَّهُ بَشَرٌ ۞
“Puncak pengetahuan apapun tentangnya, Nabi Saw
tetaplah manusia”
Imam al-Bushiri tidak bisa meneruskan bait tersebut
lalu Rasulullah Saw berkata kepadanya: “Bacalah.”, Imam al-Bushiri menjawab: “Saya tidak bisa
membuat mishra’ (suatu ‘ajz atau rangkaian kedua dari satu bait) terhadap
mishra’nya yang pertama, Lalu Rasulullah Saw yang meneruskannya dengan
berkata:
وَأَنَّهُ
خَيْرُ خَلْقِ اللَّهِ كُلِّهِمِ
“Dan sungguh ia adalah paling baiknya seluruh
ciptaanNya”
Karena itulah Imam al-Bushiri memasukkan mishra’
ini ke dalam baitnya tersebut, persis
seperti yang diucapkan oleh Rasulullah Saw. Dan ia pun membacanya
berulang-ulang setiap selesai membaca satu bait Qashidah Burdah, karena
kecintaannya pada lafadz yang diberikan Nabi Saw itu.[15]
KESIMPULAN
Imam Bushiri memiliki peran
besar dalam dunia islam khususnya di bidang sastra, karena qasidah ciptaannya
yang berjudul burdah begitu indah dan sangat berguna bagi para
pembacanya, latar belakang dan proses penciptaan burdah yang menyimpan banyak cerita penuh hikmah
menjadi bukti bahwa qasidah ini bukanlah qasidah biasa, bahkan Dr.
De Sacy, seorang ahli Bahasa Arab di Universitas Sorbone, mengatakan bahwa qashidah
burdah merupakan puisi terbaik sepanjang masa karena keindahan syair-syair
nya.
Qasidah ini dibuat ketika Imam Bushiri sakit
lumpuh, maka dengan membuat syair-syair pujian kepada
Rasulullah dan berharap keberkahan dari Rasulullah, Allah pun memberikan
kesembuhan kepadanya, kesembuhan itu datang setelah Imam Bushiri bermimpi
berjumpa dengan Nabi Muhammad dan Nabi pun meletakkan tangannya ke tubuh Imam
Bushiri lalu memberikan jubah (burdah) kepadanya, dan ketika bangun dari
tidurnya ia pun kembali dalam keadaan sehat.
Namun tidak dipungkiri lagi, bahwa kesuksesan Imam
Bushiri menjadi penyair hebat tak lepas dari besarnya perjuangannya dalam
menuntut ilmu ke berbagai tempat untuk menimba ilmu kepada para ulama besar,
diantaranya adalah Al-Quthb Abul Abbas Al-Mursi sebagai
guru utama Imam Bushiri yang mengajarkannya tarekat syadziliyyah,
sehingga terciptalah qasidah burdah yang dipenuhi dengan landasan
pemikiran tarekat syadziliyyah.
Daftar
Pustaka
Al-bajuri, Ibrahim, Syarh
Burdah, Kairo : Maktabah Al-Shafa, 1993
Kamil,Syukron Teori Kritik Sastra Arab Klasik dan Modern, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2009
Mubarak, Ali Basya, Khithathu at-Taufiqiyyah al-Jadidah , Mesir : Maktabah Usrah, 2008
Al-Haitami, Ahmad , Al-Umdah Fi Syarh Burdah, Bairut : Daar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1971
Al-Haddad, Alwi, Bugyah Ahlu Al-Ibadah wa Al-Aurad, Yaman : Maktabah Al-Ahqaf
http://ulinuhaasnawi.blogspot.com/2014/01/sair-burdah-lengkap-dengan-terjemah-nya.html
https://pusatbahasaalazhar.wordpress.com/pesona-puisi/sosiologi-sastra/
http://mbahshodiq.blogspot.co.id/2011/07/imam-bushiri-bag-ii.html
http://mallaaulia.blogspot.co.id/2014/03/imam-al-bushiri-dan-karya-terkenalnya.html
http://alam-shalawat.blogspot.co.id/2014/09/latar-belakang-munculnya-qashidah-burdah.html
https://www.nurulfajri.org/burdah-maha-karya-imam-al-bushiri-rhm/
Kamil,Syukron Teori Kritik Sastra Arab Klasik dan Modern, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2009
Mubarak, Ali Basya, Khithathu at-Taufiqiyyah al-Jadidah , Mesir : Maktabah Usrah, 2008
Al-Haitami, Ahmad , Al-Umdah Fi Syarh Burdah, Bairut : Daar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1971
Al-Haddad, Alwi, Bugyah Ahlu Al-Ibadah wa Al-Aurad, Yaman : Maktabah Al-Ahqaf
http://ulinuhaasnawi.blogspot.com/2014/01/sair-burdah-lengkap-dengan-terjemah-nya.html
https://pusatbahasaalazhar.wordpress.com/pesona-puisi/sosiologi-sastra/
http://mbahshodiq.blogspot.co.id/2011/07/imam-bushiri-bag-ii.html
http://mallaaulia.blogspot.co.id/2014/03/imam-al-bushiri-dan-karya-terkenalnya.html
http://alam-shalawat.blogspot.co.id/2014/09/latar-belakang-munculnya-qashidah-burdah.html
https://www.nurulfajri.org/burdah-maha-karya-imam-al-bushiri-rhm/
[1]
Ibrahim Al-Bajuri, Syarh Burdah, Kairo : Maktabah Al-Shafa, 1993,
hal.33
[2]
Prof. Dr. Syukron Kamil M.A, Teori Kritik Sastra Arab Klasik dan Modern,
Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2009, hlm. 114
[5] http://mbahshodiq.blogspot.co.id/2011/07/imam-bushiri-bag-ii.html,
dikutip pada tanggal 4 Januari 2017, Pukul: 21:00
[6] http://mallaaulia.blogspot.co.id/2014/03/imam-al-bushiri-dan-karya-terkenalnya.html,
dikutip pada tanggal 4 Januari 2017, Pukul: 21:00
[7]
Ahmad al-Haitami, al-Umdah Fi Syarh Burdah, Bairut : Daar al-Kutub
al-Ilmiyyah, 1971
[8] http://alam-shalawat.blogspot.co.id/2014/09/latar-belakang-munculnya-qashidah-burdah.html,
dikutip pada tanggal 4 Januari 2017, Pukul: 21:00
[9] https://www.nurulfajri.org/burdah-maha-karya-imam-al-bushiri-rhm/
dikutip pada tanggal 4 Januari 2017, Pukul: 21:00
[10] http://ulinuhaasnawi.blogspot.com/2014/01/sair-burdah-lengkap-dengan-terjemah-nya.html
[11]
Ibrahim Al-Bajuri, Syarh Burdah, Kairo : Maktabah Al-Shafa, 1993,
hal.37
[12]
Ibrahim Al-Bajuri, Syarh Burda, Kairo : Maktabah Al-Shafa, 1993,
hal.40
[13]
Ibrahim Al-Bajuri, Syarh Burda, Kairo : Maktabah Al-Shafa, 1993,
hal.33
[14]
Ibrahim Al-Bajuri, Syarh Burdah, Kairo : Maktabah Al-Shafa, 1993,
hal.33
[15] http://alam-shalawat.blogspot.co.id/2014/09/latar-belakang-munculnya-qashidah-burdah.html,
dikutip pada tanggal 4 Januari 2017, Pukul: 21:00
Tidak ada komentar:
Posting Komentar